Senin, 24 April 2017

SINOPSIS Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 22

Ini adalah episode yang paling menyedihkan buat our hong family. Mereka habis dan tak berdaya. Karena makin ke sini, kekejaman Yeonsangun makin bikin geleng-geleng kepala. Kekerasan, itulah menurut Yeonsangun satu-satunya jalan agar orang mematuhi perintahnya.


Rebel: Thief Who Stole the People : Episode 22

Episode dibuka dengan Gadis Cerewet yang memberi Gil Dong minum. Gil Dong pun mengingat kembali bagaimana dia dan Uh Ri Ni berpisah dulu. Dulu Uh Ri Ni izin mau ngambil air untuk dirinya, tapi mereka tak menyangka kalau itu adalah percakapan terakhir mereka sebelum Uh Ri Ni menghilang. Kembali ke masa kini, Gil Dong melihat kedua gadis itu menjauh.



Di tempat lain, Raja jadi percaya pada Istri Jo setelah mendengar 'Baek Dol' yang merupakan panggilan kecilnya yang biasa ibunya ucapkan. Guru Song juga tak mau ketinggalan, dia ikut memanas-manasi Raja. Akhirnya Raja terpengaruh dan mengetahui kalau surat itu hilang karena Ayah Gil Dong (Amogae).


Guru Song menceritakan hal itu pada Gil Hyeon. Gil Hyeon sangat terkejut, terlebih ketika mendengar kalau Raja ingin membalas dendam atas nama ibunya (Ratu Yun) pada Gil Dong.


Gil Hyeon berlari sangat cepat hingga mendapat tatapan keheranan dari warga yang melihatnya.

Ga Ryung syok berat melihat keadaan Gil Dong yang tampak tak berdaya. Ga Ryung mendekat perlahan, tapi Raja datang. Semua rakyat yang ada di sana sontak berlutut, tapi Ga Ryung seakan terpaku dan tetap berdiri tanpa ikut berlutut.



Dengan kemarahannya, Raja berkata kalau darah pemberontak seperti Amogae telah mengalir ke dalam tubuh Gil Dong. Gil Dong mengangkat kepalanya dan menatap diam Raja. Dia ngga punya tenaga untuk berbicara lagi.

Raja lantas mengambil pedang dan siap menebas Gil Dong. Tapi, tindakannya dicegah oleh Gil Hyeon yang tiba-tiba muncul dengan alasan kalau Raja tak pantas mengotori tangannya hanya karena seorang pencuri. Dengan menahan tangis, Gil Hyeon menawarkan agar dia saja yang membereskan Gil Dong.



Untunglah Raja setuju. Tapi, Raja bilang kalau siapapun yang membela Gil Dong akan dihukum berat. Setelah mengatakan itu, Raja pergi.

Gil Hyeon menatap Gil Dong. Mereka berbicara dalam diam. Tak ada percakapan, tapi mereka seakan mengerti satu sama lain. Gil Hyeon bertekad dalam hatinya kalau dia akan membebaskan Gil Dong. Air mata Gil Dong menetes, tetapi tak terlihat karena tertutupi darah. Hua! Sedih.



Gil Hyeon pun menjauh dengan berat hati. Kemudian Ga Ryung kembali mendekat hingga berhadapan langsung dengan Gil Dong, diikuti 2 ibu-ibu yang nekat membawa air. Ga Ryung menangis sambil berkata, "Suamiku... Ayo kita pulang.." (perkataan ini tak didengar prajurit)

Gil Dong hanya diam. Ga Ryung mencoba melepas ikatan Gil Dong. Melihat itu, prajurit langsung menangkap Ga Ryung dan dua ibu-ibu tadi. Ga Ryung mencoba melawan, tapi tenaganya masih kalah jauh dengan prajurit. Di penjara, Ga Ryung memohon pada petugas agar dibebaskan.



Di dalam, Gil Hyeon menghadap Raja dan menyarankan agar membiarkan Gil Dong hidup agar semua rakyat mengganggap Raja baik hati (?), lagipula Raja bisa memanfaatkan kekuatan Gil Dong nantinya. Raja tak menjawab, tapi sepertinya dia tertarik.

Gil Dong semakin lemah. Tak lama kemudian, kepalanya tertunduk. Warga sedih dan mengira kalau Si Anak Perkasa telah mati. Kemudian Gil Dong diangkut oleh petugas.


Ga Ryung yang baru saja bebas, bingung melihat tak ada Gil Dong di sana. Seorang pria berkata kalau Ga Ryung terlambat karena Gil Dong sudah mati. Jleb. Dunia Ga Ryung menjadi abu-abu. Dia hanya mematung tak percaya berita yang baru saja dia dengar.



Ternyata Gil Dong masih hidup. Kini dia ada di penjara. Gil Hyeon datang sambil menangis. Seorang petugas datang dengan bingung melihat Gil Hyeon malah menangis. Lalu Gil Hyeon menyogok petugas itu dengan sekantong uang dan memintanya agar membuat Gil Dong tetap hidup apapun yang terjadi. Gil Hyeon beralasan kalau Raja punya rencana lain untuk Gil Dong. Petugas itu mengangguk paham.


Raja mengakui kesalahannya yang telah memburu 'orang' (Gil Dong) di depan para pejabat. Kemudian Raja mengungkit sikap para pejabat yang tak kalah jauh hinanya. Salah satunya, Menteri Lee (orang yang telah memberi racun sekaligus saksi atas kematian Ratu Yun), dengan marah Raja berkata kalau Menteri Lee telah menumpahkan minuman ke baju kebesarannya saat jamuan dulu. Menteri Lee spontan menyangkal kalau dia tak sengaja.


Raja tak peduli, dia menganggap kalau Menteri Lee telah merendahkan dirinya. Langsung saja, Raja memerintahkan agar Menteri Lee dihukum. Para pejabat kaget mendengarnya. (Well, kita tau kalau waktu itu Raja sengaja ngisi penuh minumannya. Agar Raja melimpahkan kesalahan itu pada Menteri Lee sebagai langkahnya dalam membalaskan dendam ibunya). Gil Hyeon mendengarnya miris.

Menteri Lee pun dihukum dan diasingkan. Di ruangan lain, para pejabat merasa hukuman itu tak masuk akal. Karena Menteri Lee melakukan itu atas perintah mendiang Raja. Salah satu pejabat sadar kalau Raja ingin menghukum orang-orang yang terlibat dalam kematian Ratu yang diturunkan (Ratu Yun). Para pejabat lain kaget seakan ikut menyadari hal itu.


Tiba-tiba datang seorang pejabat dan memberitahu kalau dua selir mendiang Raja yang diduga sudah memfitnah Ratu Yun dipanggil ke Istana. Semua pejabat pun semakin kaget.

Ya, kini dua selir itu, terbungkus kain, dan sudah berlumuran darah. Mereka tergeletak di tanah. Raja terlihat kacau dalam kemarahannya. Para pejabat melihatnya ngeri. Raja bahkan menyuruh kasimnya untuk menyebarkan perilakunya itu pada rakyat agar semua rakyat tau betapa marahnya dia saat ini.



Keesokannya, Raja kembali memberi perintah agar menyelidiki dan menghukum siapapun yang terlibat dalam penurunan Ratu Yun. Dan membunuh mereka semua. Benar saja, perintah itu memang benar-benar dilakukan. Semua orang-orang itu dihukum dengan kejam, Raja melihatnya datar, tanpa ekspresi. Hii serem.


Raja mengakui kalau Mori memang punya kekuatan yang tak biasa, tapi tetap saja Mori beda dengan Gil Dong. Pangeran mengira Raja marah, dan langsung mempersilahkan Raja untuk meremukkan Mori seperti Gil Dong sebagai hukuman (huh, coba Mori denger kalau dia dikhianatin lagi). Raja menolak, dia berencana membebaskan untuk memberinya tugas.


Mori keluar penjara dan mendekati Pangeran dengan ragu. Pangeran berbalik dan langsung menampar Mori karena telah mempermalukannya. Mori menuduk seperti anak kecil yang baru saja diomeli ibunya. Ha. Lalu Mori membela diri kalau dia hanya ingin membayar utangnya pada Gil Dong, dan berjanji kalau hal itu tak akan terulang. Pangeran pun menyampaikan tugas baru Mori.


Mori menancapkan papan (atau batu?) yang bertuliskan kalau itu adalah wilayah perburuan Raja. Semua rakyat yang ada di sana disuruh pergi. Warga tentu menolak, tapi mereka malah dipukuli habis-habisan oleh petugas yang dibawa Mori. Mereka memukuli pria dan wanita. Dua balita yang ada di sana bingung melihat kejadian itu, mereka pun hanya bisa menangis.



Beralih ke Istana. Gil Dong bangun! Berita itu sampai ke telinga Tim Pencuri, Noksu, dan juga Raja. Raja langsung melihat dan terkejut ketika melihat Gil Dong yang masih bisa berjalan, meskipun terseok-seok. Padahal Gil Dong sengaja dibiarkan kelaparan saat di penjara. Lalu, tanpa ragu, Raja memanah Gil Dong. Gil Dong terjatuh, tapi di percobaan kedua dan ketiga dia berhasil menghindari panah Raja. Raja pun semakin terlihat senang. Setelah itu, Raja pergi. Dari kejauhan, Noksu bergidik ngeri melihat itu semua. 



Noksu menghampiri Gil Dong di penjara. Gil Dong terkejut melihat 'Gong Hwa'nya ada di sana. Noksu langsung memberitahu kalau Gong Hwa telah mati. Gil Dong tak mengerti, tapi matanya menangkap perhiasan yang dulu dia pernah kasih ke Raja, kini ada di rambut Noksu. Gil Dong spontan bertanya, "Apa kau...milik Raja?"

Noksu tak menjawab, dia malah berkata, "Selama kita menjaga jarak, aku berjanji akan membantumu keluar suatu saat nanti. Dan sekarang kita adalah orang asing." Noksu mengatakan itu tanpa menatap Gil Dong. Setelah itu, Noksu pun pergi dari sana. Cinta pertama emang ngga mudah buat dilupain ya? Haha.



Tim Pencuri yang sedang kerja bakti, sangat gembira mendengar kabar bahwa Gil Dong sudah bangun. Mereka yakin kalau mereka akan bebas sebentar lagi. Tapi, harapan mereka pupus ketika mereka melihat Gil Dong yang baru saja datang dengan keadaan lemah.

Gil Dong disuruh berdiri dan ikut kerja bakti. Tapi, karena lemah banget, Gil Dong tak sanggup berdiri. Dia pun dipukuli oleh petugas itu. Mori melihatnya tanpa ekspresi.

"Master Hong! Berdirilah! Sekarang!" teriak Il Chung yang tak terima melihat Gil Dong dipukuli seperti itu.

Tapi Gil Dong malah terus dipukul. Melihat itu, Tim Pencuri berbondong-bondong mencoba melawan petugas. Tapi apa daya, mungkin karena mereka juga lemah, jadinya mereka tak bisa melawan para petugas itu. Gil Dong pun hanya melihat itu sedih. Hei, mana kekuatanmu?!



Di dalam sel, Tim Pencuri tak percaya mengingat Gil Dong yang tak bergerak sedikitpun untuk menolong mereka saat dipukuli oleh petugas. Tim Pencuri sangat sedih dan putus asa. Soobori mencoba meyakinkan rekan-rekannya kalau Gil Dong pasti bisa bangkit lagi. Untuk menolong mereka tentunya.


Raja semakin ditakuti oleh para pejabat. Para pejabat hanya bisa mengangguk dan mengiyakan apapun yang Raja katakan. Saat ini Raja malah mau nambah musisi wanita, sebab menurutnya, musisi Jangakwon kurang banyak. Raja minta dicarikan musisi cantik lain dari seantero Joseon, dan akan menamai mereka sebagai 'Heungcheongi'. Para pejabat pun tak bisa berbuat apa-apa.

Para gisaeng resmi pemerintahan memasuki Istana. Ga Ryung mereka dan bertanya pada gisaeng yang lewat, apa yang terjadi, kok mereka bisa masuk Istana? Gisaeng itu menjawab, selama Ga Ryung punya bakat nari dan nyanyi, maka Ga Ryung bisa ikutan karena Raja menyukainya.


Beralih, Ga Ryung nelangsa banget. Mengingat perkataan gisaeng tadi, dia pun seakan disetrum. Ga Ryung mengambil cermin dan menatap wajahnya. Kemudian dia bertekad untuk balas dendam pada Raja. Hei, Gil Dong masi idup! 


Di dalam, Raja protes melihat calon Heungcheongi sedikit. Noksu pun menyarankan agar mengizinkan gisaeng tak resmi juga diperbolehkan bergabung. Raja setuju dan memuji Noksu yang bersikap profesional. 


Beralih, Ja Won mendekati Noksu dan bertanya mengapa Noksu malah tak menghentikan Raja? Noksu dengan santai berkata kalau Ja Won sepertinya tak tahu apa-apa. Noksu pun mengingatkan betapa parahnya sifat Raja sekarang. Noksu mengaku kalau dia melakukan itu, semata-mata untuk bertahan hidup. Sebelum pergi, Noksu menyarankan agar Ja Won tak melakukan kesalahan, jika tidak Raja tak segan membunuh Ja Won. Ja Won tak menjawab, seakan mengakui kalau perkataan Noksu adalah benar.


Di jalan, Noksu bergumam, "Aku harus bertahan....agar bisa menyelamatkan dia (Gil Dong)." Omo.

Noksu memberi pengarahan pada musisi baru (termasuk Ok Ran dan Gadis Cerewet) tentang perayaan Raja. Noksu menegaskan agar mereka tak membuat kesalahan. Mereka mengerti.


Mereka tampil diacara itu. Noksu memimpin. Noksu menari sambil memainkan janggu. Anggun banget yak!



Raja bener-bener menikmati tarian itu. Setelah selesai, Raja pun bersorak. Diikuti para pejabat.



Tapi, tiba-tiba ada teriakan. Ternyata itu ada ruangan Raja. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat baju kebesaran Raja kotor bersimbah darah. Kesenangan yang tadi Raja dapatkan seketika tergantikan oleh amarahnya. Raja mencambuk kasim mudanya sampai rantingnya patah, lalu memasukkan kasim itu ke penjara.


Raja marah banget, tapi dia bingung siapa yang menerornya. Oke, kamera menyorot Gil Hyeon. Dalam narasinya, Gil Hyeon berkata kalau sebaiknya Raja berdoa agar tak bertemu dengan pengikut Master Hong yang lain. Yuhu~ Ayo Gil Hyeon!


Keesokannya, Raja mengajak Noksu berburu di hutan. Lagi-lagi Raja malah mau memburu Gil Dong. Raja memanah Gil Dong tanpa rasa manusiawi. Untunglah Gil Dong bisa menghindar. Noksu dan musisi lain melihatnya ngeri.



Merasa makin berbahaya, Gil Dong memutuskan untuk berlari dengan langkah terseok. Dia pun sempat terjatuh ke jurang (rendah kok). Raja dan pengawalnya mencoba mengejar Gil Dong.

Gil Dong merosot dan berhenti. Dia mendengar ucapan para musisi dewasa yang bilang kalau Raja mengumpulkan siapapun yang cantik, tak peduli udah bersuami ataupun sedang hamil. Mendengar hal itu, Ok Ran ketakutan dan hampir menangis. Gadis Cerewet mencegahnya sambil berkata, "Melihatmu menangis, aku juga akan menangis. Aku juga takut pada Raja."



Suara gadis itu menarik perhatian Gil Dong. Gil Dong pun mendekati mereka sambil memanggil nama Uh Ri Ni. Kedua Gadis tak mengerti. Tiba-tiba saja, Gil Dong di jaringi.

Raja senang sekali. Tapi, dia bingung melihat Gil Dong malah nangis. Raja berpikir kalau Gil Dong takut dibunuh olehnya. Huu, geer.



Raja ingin menunjukkan sesuatu pada Gil Dong. Dan...ternyata Gil Dong dibawa ke desa setempat. Di sana sangat kacau. Pria dipukuli, juga wanita. Remaja-remaja dibawa paksa untuk memenuhi permintaan Raja. Gil Dong cuma bengong melihat semua itu. Tapi, Gil Dong bingung karena dia malah sedih melihat mereka (warga) menangis, padahal biasanya dia langsung marah. Entah apa yang terjadi pada dirinya.



Di penjara, Gil Dong tertunduk. Dia mengingat pesan ayahnya untuk menjadi Jenderal dan menerima pedang milik Raja dari Raja sendiri.


Kembali ke masa kini. Gil Dong mengangkat kepalanya dan berkata, "Ayah.. Bagaimana kalau aku tidak seperti Jenderal itu, tapi menjadi orang yang berhak atas pedang itu?"


Gil Dong membuka matanya, diikuti dengan cahaya yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Seakan terpanggil, Gil Dong lantas berdiri dengan tegak. Yey!


BERSAMBUNG ke Ep 23

FYI : Lee Ha-nui (pemeran Noksu) sampe harus berlatih dari bulan Januari buat scene yang nari itu doang. Mantep ya?
• Kamu bisa menonton scene Noksu nari, di sini [watch]
• Atau melihat behind in the scene ketika Lee Ha-nui berlatih, di sini [watch]



PS. Sinopsis selanjutnya akan diposting sangat terlambat.

2 komentar:

  1. Seruuuu...semangatttt bwt nulis sinopsisny uni 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sinopsis selanjutnya baru bisa diposting setelah tgl 21 mei, maaf atas keterlambatan ini. Terima kasih atas kunjungannya :D

      Hapus