Minggu, 18 Juni 2017

Sinopsis Secret Forest Episode 2

Saya menonton ini dalam diam. Tak berkata. Antara takjub dan bingung. Banyak dialog yang memiliki makna ambigu. Dan saya kembali merasakan atmosfer yang sama ketika saya menonton Beautiful Mind-nya Jang Hyuk. *goosebumps*


Episode 2

Hwang Shi Mok terlambat. Si pelaku ditemukan tewas setelah menggantung dirinya sendiri. Shi Mok mencoba menganalisis mayatnya yang sudah dipindahkan ke kamar jenazah. Petugas menyinggung tentang surat aneh yang Shi Mok sebut saat di telepon. Shi Mok berbohong dan mengatakan bahwa isi surat itu tak ada hubungannya dengan kematian si pelaku.


Ketika Shi Mok keluar, tiba-tiba Istri si pelaku datang sambil histeris. Shi Mok mendekatinya dan bertanya alasan kenapa istrinya mengirim surat itu padanya. Istri si pelaku tak menjawab, dia hanya berteriak histeris. Akhirnya Shi Mok berteriak amat keras sambil berkata kalau si istri pasti sudah tau kalau suaminya mau mati! Seketika Istri si pelaku diam dan menatap Shi Mok.

Shi Mok melanjutnya perkataannya dan mengabaikan petugas penjara yang menegurnya karena sudah membuat kegaduhan (teriak). “Aku yakin kalau suamimu berkata kalau kau dan anakmu akan hidup dengan tenang setelah kematiannya. Lalu kau mengirim surat itu padaku, setelah kalian membuat perjanjian. Kau sudah menerima sejumlah uang yang besar belum lama ini, kan? Dan kau menerimanya, tanpa tau kalau itu adalah harga nyawa suamimu.”

Istri korban tak percaya Shi Mok menuduhnya seperti itu. Dengan terisak, Istri si pelaku mengaku kalau suaminya bilang surat itu untuk menggertak kejaksaan saja, dia yakin kalau suaminya sama sekali tidak berniat untuk bunuh diri. Shi Mok hanya mengganguk paham dan bergegas pergi tanpa memberi komentar.

Di tengah jalan, Shi Mok berpikir, apakah Istri si pelaku memang sudah jujur atau mungkin hanya bersandiwara. Karena semua kemungkinan bisa terjadi selama belum ada bukti konkret.



Shi Mok menemui analis CCTV. Shi Mok bertanya apakah rekaman (yg dipakai Jaksa Young) itu asli? Kemudian Shi Mok memperbesar rekaman saat CEO Park sedang mengintip di jendela, dia bertanya apa bagian itu bisa dimanipulasi? Analis menjawab kalau itu semuanya asli. Shi Mok menganguk-ngangguk. (Setelah diliat ulang, wajah CEO Park emang tidak terlihat jelas. Makanya Shi Mok nanya, apakah di bagian situnya bisa di edit)



Masih di gedung yang sama, Shi Mok tak sengaja melihat Sersan Kim (sebelumnya ditulis Kepala Tim Kim) yang baru saja keluar dari lab DNA/genetika. Sersan Kim mengeluh sambil berkata kalau seharusnya dia tidak memberikan kasus itu pada wanita itu (Letnan Han). Shi Mok kepo dan berniat mengikutinya, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Deputi Lee meneleponnya karena ingin memastikan bahwa semuanya berjalan lancar. Shi Mok mengiyakan dengan sopan.

Kilas balik 5 bulan yang lalu. Saat seminar kejaksaan. Waktu itu Shi Mok mendapat banyak kejutan yang tak biasa. Dari sana, dia tau kalau CEO Park itu suka menyediakan wanita-uang-anggur untuk menyenangkan para petinggi. Deputi Lee juga ikut menikmatinya.

Masih di gedung yang sama, hanya saja waktunya berbeda, Shi Mok melihat keakraban Deputi Lee dengan Chief Kim. Kembali ke masa kini. Suatu kebetulan, Shi Mok melihat Chief Kim yang baru saja keluar dari kantor polisi. Dia bertanya-tanya apa yang dilakukan Chief Kim di sana. (Chief Kim adalah Kepala Kepolisian. Selanjutnya saya sebut Kepala Kepolisian Kim)



Letnan Han terkejut melihat Shi Mok yang ada di kantornya. Dia mengekori Shi Mok sambil mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi padanya. Shi Mok menyuruh Letnan Han mengurusi dirinya dulu. Letnan Han tak mengerti. Kemudian Shi Mok berkata kalau Sersan Kim keliatan khawatir dengan hasil DNA-nya. Letnan Han tersadar kalau dia sudah melewatkan yang satu itu.

Letnan Han menemani Shi Mok ke ruang penyimpanan barang bukti. Di sana, Shi Mok memeriksa catatan riwayat CEO Park. Letnan Han menatapnya curiga karena Shi Mok mengetahui pola ponsel CEO Park. Shi Mok tak menanggapinya, masih fokus dengan ponsel itu.

Dari riwayat telepon, ada satu nomor yang CEO Park hubungi tepat setelah menelepon Shi Mok. Letnan Han bertanya apa Shi Mok mengenalnya? Alih-alih Shi Mok malah pergi keluar tanpa bicara sekata pun. Letnan Han mendengus kesal. Kemudian menghubungi nomor itu, sayangnya, nomor itu tidak aktif.



Keesokannya, kematian Si pelaku serta surat pengakuannya menjadi berita terhangat pagi itu. Semua orang menuntut penjelasan dari kejaksaan. Jaksa Young mencoba menahan rasa gugupnya ketika dia mengklarifikasi semuanya di depan pers. Jaksa Young menyangkal adanya manipulasi rekaman dan menegaskan kalau surat itu tidaklah berdasar (ga ada bukti nyata).

Di tempat lain, Letnan Han pergi ke lab untuk mendapatkan salinan hasil tes DNA, sebab Sersan Kim telah berbohong padanya kalau itu adalah darah anjing. Letnan Han sangat terkejut saat membaca hasilnya. Ternyata sampel darah itu adalah milik CEO Park.



Letnan Han menemui Shi Mok yang baru saja menyelesaikan sidangnya. Letnan Han tahu bahwa rekaman blackbox yang diputar saat persidangan terakhir, sudah dimanipulasi oleh kejaksaan. Shi Mok tak bereaksi atau kaget mendengar tuduhan itu. Ha. Shi Mok udah tau kalo blackbox itu dimanipulasi.

Letnan Han bingung sebenarnya apa sudah yang terjadi. Apa hubungan CEO Park dengan Sersan Kim, hingga Sersan Kim berbohong padanya. Letnan Han menuntut jawaban dari Shi Mok, dengan mengiming-imingi kalau dia punya sesuatu yang harus Shi Mok tau (hasil tes DNA).


Alih-alih menjelaskan, Shi Mok malah memberi beberapa teka-teki pada Letnan Han. “CEO Park sebagai ‘sponsor’. Dia menyediakan sesuatu yang bisa menyenangkan para penguasa (uang-wanita). Jadi dia tentu mengetahui semua tindakan kotor para penguasa. Suatu ketika CEO Park bangkrut. Menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya?”

“Jadi, dia dibunuh karena sudah mengancam sosok berkuasa? Pelakunya diantara petinggi itu?” ucap Letnan Han spontan.

Shi Mok tak menjawab. Kemudian Shi Mok mengatakan alasannya sampai dia bisa pergi ke rumah CEO Park tepat di hari kejadian itu. Shi Mok berkata kalau CEO Park yang menyuruhnya datang karena ingin menunjukkan bukti korupsi padanya.

“Sersan Kim sebelumnya menginterogasiku. Dia bertanya hubunganku dengan CEO Park. Saat aku menjawab kalau aku adalah kenalan pribadinya, Sersan Kim tersenyum. Kenapa? Karena dia pikir aku juga menerima suap.”

Shi Mok menambahkan kalau jabatan Sersan Kim tidak setinggi itu buat terlibat korupsi, Shi Mok menebak mungkin atasan Sersan Kim yang menerimanya. Letnan Han tidak terima instansinya direndahkan seperti itu. Kemudian Shi Mok bilang kalau laptop yang ada di rumah CEO Park menghilang. Shi Mok merasa kalau di laptop itu ada daftar penguasa yang korupsi.



Sekarang giliran Letnan Han. Dia memberikan hasil tes DNA itu pada Shi Mok dan berkata kalau darah itu ditemukan di tempat yang sama sekali tidak dilewati si pelaku. Letnan Han yakin kalau itu pembunuh yang sebenarnya, bukan si pelaku yang bunuh diri itu. Melihat reaksi Shi Mok yang biasa saja, Letnan Han berdecak pelan, dia sadar kalau Shi Mok juga sudah mengetahui fakta itu.


Letnan Han mengekori Shi Mok. Mereka pergi ke TKP dan melihat-lihat sekitar. Mencari sesuatu yang janggal. Shi Mok curiga kalau taksi yang merekam kejadian itu emang sengaja diparkir di situ. Lalu Shi Mok menginterogasi supir taksi itu. Shi Mok tau harusnya taksi itu dipakai bekerja, karena saat kejadian terjadi, bukanlah hari libur. Shi Mok berkata kalau dia sudah memeriksa blackboxnya, dan itu terlihat kalau taksinya terparkir seharian di sana. (mobilnya itu taksi)

Supir taksi menjelaskan kalau dia sedang diskors karena ada orang yang melaporkannya dengan alasan dia sudah menolak penumpang. Akibatnya, dia harus bayar denda dan diskors. “Dia ahjuma berambut keriting. Waktu itu dia sedang mabuk berat.”



Kemudian Letnan Han menunjukkan tempat bercak darah yang dia temukan. Shi Mok menelurusinya dan berjalan lurus hingga sampai ke rumah CEO Park. Dia masuk ke dalam rumah CEO Park lewat jendela. Shi Mok berjalan dalam gelap. Sedangkan Letnan Han masih di luar karena sedang mencari informasi tentang ahjuma keriting. (Mereka curiga si ahjuma  itu sengaja ngelaporin supir taksi, biar supir taksi itu ngga kerja. Otomatis taksinya diparkir di sana, dan bisa merekam kejadian itu. Singkatnya, Shi Mok curiga si ahjuma bersekongkol dengan pembunuhnya)



Shi Mok mengedarkan pandangan ke tiap sudut rumah. Shi Mok membayangkan dirinya sedang menyaksikan pembunuhan itu terjadi. Bahkan, Shi Mok pura-pura bertindak sebagai pembunuhnya. Dia mengambil pisau dapur dan mengayun-ayunkannya ke udara sambil membayangkan CEO Park di depannya.

Shi Mok mengulangnya beberapa kali, dia ingin menyesuaikan dengan jeda waktu rekaman blackbox itu. Tapi Shi Mok masih tetap kekurangan waktu. Letnan Han yang baru saja sampai, melihat Shi Mok waspada. Shi Mok belum sadar kalau dia lagi diliatin Letnan Han.



Shi Mok berdiri di jendela dan pura-pura membuka gorden. Lalu menatap taksi yang memiliki blackbox itu. Kemudian Shi Mok menoleh ke samping kiri, dan menatap pantulan dirinya yang terlihat di kaca itu, lalu bergumam, “Aku tetap kekurangan waktu. Itu artinya, hanya ada satu kemungkinan. Ketika bel berbunyi.. CEO Park sudah terbunuh. Kau bukan CEO Park. Siapa kau?” (yg buka gordennya bukan CEO Park)



Shi Mok menoleh dan melihat Letnan Han. Letnan Han masih belum paham apa yang sedang Shi Mok lakukan. Lalu Letnan Han memberitahu bahwa ahjuma keriting tak ada hubungannya dengan kasus ini.

Kemudian Shi Mok berkata kalau orang yang CEO Park hubungi setelah dia adalah milik Deputi Lee. Letnan Han terkejut mengetahui hal itu, dia membayangkan seberapa menurutnya Deputi Lee bertindak terlalu jauh. Seketika Letnan Han sadar, bahwa seandainya Jin Seop (org yg dituduh pembunuh) tidak datang secara kebetulan ke sini, Shi Mok lah yang akan dituduh sebagai tersangka. Dan Shi Mok sadar betul akan hal itu, hanya saja dia tidak memiliki bukti yang mendukung.


Ketika di dalam mobil, Letnan Han bingung kepada siapa dia harus memberi hasil tes DNA itu, semuanya tidak bisa dipercaya lagi, “Unit kekerasan pasti sangat terguncang nanti. Kami yang menangkap, kami yang memenjarakan, dan dia bunuh diri. Lalu kami juga yang harus mengumumkan kalau dia tidak bersalah.”

Mereka sama-sama berada di posisi sulit. Reputasi mereka dipertaruhkan. Shi Mok mengingatkan kalau tugas mereka adalah mengungkapkan fakta, dan menyerahkan semua keputusannya pada Letnan Han. Letnan Han terdiam untuk sesaat, lalu dia meminta Shi Mok menurunkannya di pinggir jalan. Letnan Han keluar dan menelepon seseorang.



Keesokan harinya, Letnan Han dimarahi oleh Ketua Tim-nya karena sudah memberikan hasil tes DNA itu pada media tanpa memberitahunya dulu. Sedangkan Sersan Kim dimarahi karena telah menyembunyikan bukti penting. Keduanya saling menyalahkan. Itu membuat Ketua Tim makin kesal (karena ketauan ya?). Kini semua orang tau kalau si pelaku hanyalah korban salah tangkap. Kejaksaan dan kepolisian mendapat banyak kritik.


Ketika mereka keluar dari ruang kerja Ketua Tim, Letnan Han langsung meminta laptop CEO Park pada Sersan Kim. Sersan Kim mencoba berkilah, tapi Letnan Kim tetap memaksanya. Akhirnya Sersan Kim memberikan laptop itu sambil membela diri kalau dia tidak bermaksud apa-apa.

Letnan Han membuka laptop itu, dan menelepon Shi Mok. Ketika Laptop itu udah menyala, dia terkejut melihat wallpaper kartun jepang (anime) terpasang di laptop itu. Letnan Han bilang pada Shi Mok kalau laptop itu kemungkinan punya anaknya karena ngga mungkin CEO Park memasang wallpaper itu. Shi Mok berkata kalau tidak ada laptop di kamar putranya, lagipula putranya sedang wamil (wamil dilarang berkomunikasi). Di usia seperti itu, sangat tidak mungkin kalau sang anak tidak punya laptop atau komputer.

Letnan Han menyarankan agar memakai jasa cyber untuk mengembalikan semua data yang sudah terhapus. Letnan Han mengatakan itu sambil melirik Sersan Kim. Ha. Shi Mok membalas kalau itu percuma saja, “Jika pembunuh itu meninggalkannya, kurasa tidak ada hal penting lagi di situ.” Klik. Shi Mok memutus panggilannya. Letnan Han berdecak pelan. Haha.


Jaksa Young dikerubuti para wartawan yang ingin menuntut penjelasan darinya. Jaksa Young benar-benar terlihat ketakutan, bahkan secara tak sadar dia mendorong salah satu wartawan yang ada di depannya.

Ketika sampai di ruang kantornya, dia masih terlihat ketakutan. Dia membaca berita tentang dirinya, banyak netizen yang menghinanya habis-habisan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Jaksa Young sangat terkejut mendengar kabar bahwa ayahnya baru saja meninggal. Dia segera bergegas.


Shi Mok berpapasan dengan Jaksa Seo yang sedang membawa sejumlah wanita cantik. Jaksa Seo melewatinya sambil berkata kalau harusnya Shi Mok membantu juniornya (Jaksa Young) di luar sana. Shi Mok hanya diam. Tiba-tiba langkahnya terhenti, mata Shi Mok menangkap seorang wanita yang tak asing lagi untuknya.

Dia pernah melihat wanita itu saat seminar dulu. Shi Mok ingat kalau dia adalah wanita yang dibawa masuk diam-diam oleh Deputi Lee ke dalam kamar hotelnya. Wanita itu baru saja melewatinya. Wanita itu ada di antara wanita cantik yang dibawa Jaksa Seo.




Setelah Jaksa Seo menjauh, Shi Mok nekat masuk ke ruang kerja Jaksa Seo dan mencari berkas yang berkaitan dengan kasus prostitusi. Baru saja Shi Mok membuka halaman awal berkas, tiba-tiba Jaksa Seo masuk dan langsung menjatuhkan map itu. Dia buru-buru memungut berkas itu. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya.

Shi Mok berbohong kalau dia sedang mencari berkasnya yang hilang. Jaksa Seo tau kalau itu bohong, dan menuduh Shi Mok yang berani menyelinap ke ruangannya. Shi Mok dengan muka polos bertanya, emang di situ ada berkas penting apa sampai dia harus menyelinap segala? Jaksa Seo speechless. Shi Mok pamit keluar. Jaksa Seo tambah marah ketika dia membuka berkas di tangannya. (mungkin dia takut ketauan)



Jaksa Seo mengejar Shi Mok yang belum jauh. Dia langsung menarik jas Shi Mok sambil bertanya apa yang sebenarnya Shi Mok cari di kantornya. Deputi Lee yang kebetulan melihat itu, langsung menyindir mereka agar berkelahi di depan wartawan saja. Biar dunia tau betapa kacaunya kejaksaan saat ini. Mereka berdua meminta maaf.


Di ruang Deputi Lee, Jaksa Seo melaporkan tindakan Shi Mok. Deputi Lee terlihat khawatir setelah mendengarnya. Jaksa Seo menyarakan agar Shi Mok dipecat saja. Deputi Lee berkata itu sama aja bunuh diri, mereka akan hancur kalau Shi Mok sampai membuka mulutnya.

Deputi Lee berencana untuk memprovokasi Shi Mok dan mengorbankan Jaksa Young (Jaksa Young yg kena hukuman). Jaksa Seo langsung menolaknya. Deputi Lee meminta agar Jaksa Seo fokus untuk mencari ‘sesuatu’ dulu. Jaksa Seo berjanji akan segera menemukannya.


Shi Mok diajak makan bareng sama Chief Kim dan 3 petinggi lain. Chief Kim berkata kalau Shi Mok mungkin akan diperiksa oleh tim audit internal (untuk pengkajian ulang). Shi Mok baru tau hal itu. Petinggi yang duduk di sebelah Chief Kim bilang mungkin itu adalah modus untuk menyingkirkan Shi Mok. Shi Mok terlihat biasa saja. Atau lebih tepatnya, bingung bagaimana harus menanggapinya.
 
Ponsel Shi Mok berdering, Deputi Lee meminta bertemu. Shi Mok segera pamit pada Chief Kim, dan bergegas.


Ketika Shi Mok sampai ke ruangannya, Deputi Lee mengatakan hal yang sama seperti Chief Kim, bahwa akan ada pemeriksaan audit internal. Shi Mok hanya mengangguk, tanpa memberitahu kalau sebenarnya dia sudah tau dari Chief Kim.

Deputi menjelaskan kalau akan ada pejabat yang diberhentikan. Pejabat itu tidak bisa lagi bekerja sebagai PNS, pengaca, bahkan semua yang berbau hukum. Deputi Lee berkata kalau Chief Kim sebentar lagi menjadi anggota dewan, dia yakin kalau dialah yang akan mengisi posisi yang ditinggalkan Chief Kim. Deputi Lee berniat untuk mengangkat posisi Shi Mok menjadi Kepala Tim Jaksa Unit 3.

Shi Mok menebak berarti pejabat yang diberhentikan adalah Jaksa Young. Deputi Lee bertanya balik, bagaimana jika Jaksa Seo? Jaksa Seo punya kebiasaan buruk dengan menyimpan bukti penting sampai persidangan terakhir. Kadang itu menjadi sebuah masalah yang merepotkan. Deputi Lee berkata kalau junior yang selalu Jaksa Seo anggap remeh, justru memiliki punya otak yang paling brilian di antara mereka. Lalu Deputi mengarahkan jari telunjuknya ke Shi Mok. (Shi Mok lah junior berotak brilian itu)



Shi Mok masih diam. Deputi Lee bangkit dan berdiri di depan jendela, Shi Mok mengikutinya. Deputi Lee berkata kalau Shi Mok pasti melindungi juniornya, karena Jaksa Young-lah yang akan diberhentikan.

Tiba-tiba Deputi Lee menatap Shi Mok. Lalu memegang bahu Shi Mok erat sambil mendorongnya dan mendudukannya di kursi kerjanya. Deputi Lee berkata dengan jelas kalau dia tidak mengenal CEO Park. Shi Mok berkata, “Resort Hansung, kamar 1008. Apa saya harus bilang kalau Anda tak mengetahui hal itu juga, Pak?” (Deputi Lee membawa masuk si wanita seksi ke kamar itu)

Deputi Lee menarik tangannya dari bahu Shi Mok, tanpa mencoba menyangkal perkataan Shi Mok. Dengan santai Shi Mok berkata kalau dia lebih suka bekerja di ruangan Deputi Lee, daripada menjadi Kepala Bagian (posisi yg ditawarin Deputi Lee pada Shi Mok). “Tolong berikan posisi ini untuk saya.”



Deputi Lee menyindir apakah itu diri Shi Mok yang sebenarnya? Yang haus jabatan. Shi Mok mengaku kalau dia akan mengikuti jalan Deputi Lee, bahkan Shi Mok meminta bimbingan Deputi Lee.

“Setelah itu? (mendapat posisi ‘Deputi’)”

“Jatuhkan saya.” jawab Shi Mok santai.


BERSAMBUNG

Komentar :

Saya ingin tau apa peran si wanita seksi itu, kenapa identitasnya dilindungin gitu. Ya kali cuma gara-gara takut kena skandal? Dan ya, saya curiga Jaksa Seo menyukai Jaksa Young. Soalnya dia keliatan peduli sama Jaksa Young. Hm.

OMO. Adegan terakhir ngingetin saya pada Dokter Lee (ayahnya Young Oh) ketika sedang mengendalikan Young Oh. How interisting. Saya rasa, pas Deputi Lee megang bahu Shi Mok, sebenernya itu adalah sebuah penegasan kalau Deputi Lee bisa mengendalikan Shi Mok. Tapi kayaknya Shi Mok ngga terpengaruh, dia malah nantangin. 



4 komentar:

  1. SEMANGAT nulis kak... Gumawo, makasi ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. *loncat-loncat di kasur* ceritanya biar semangat

      Hapus
  2. Di tnghu episode slnjytnya unnie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar yaa, subtitle drama ini keluarnya lama hehe

      Hapus